Kemenyan yang terletak di jantung hutan Sumatera Utara bukan merupakan sekedar komoditas, ia adalah jejak peradaban. Pada Juli - Agustus 2025, sebuah studi ilmiah tanaman dan sosial digelar melalui Ekspedisi Peradaban Kemenyan Sumatera: Riset, Resin, Ritual. Ekspedisi ini digagas oleh Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) sebagai upaya untuk menggabungkan tradisi lokal dengan riset ilmiah.
TSTH2 bersama dengan IT Del melibatkan peneliti beberapa universitas, antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Nusantara, Universitas Jember. Selain itu, kegiatan ini juga di dukung oleh Pemerintah Kabupaten, Dinas Pertanian, masyarakat lokal, dan bahkan oleh TNI. Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan kesadaran bersama bahwa kemenyan adalah aset berharga baik secara ekonomi, ekologis, maupun budaya yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Penelitian dilaksanakan di dua wilayah utama penghasil kemenyan, yaitu Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Utara. Di Humbang Hasundutan, tim menyusuri Desa Banuarea (Kecamatan Pakkat), Desa Sion Timur II (Kecamatan Parlilitan), dan Desa Aek Nauli I (Kecamatan Pollung). Sementara di Tapanuli Utara, eksplorasi dilakukan di Desa Banuaji IV (Kecamatan Adian Koting), Desa Simardangiang (Kecamatan Pahae Julu), serta Desa Sabungan Nihuta V (Kecamatan Sipahutar).
Tidak hanya mengumpulkan data, ekspedisi ini juga melakukan kajian sosial ekonomi untuk memahami sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat dalam rantai pasok kemenyan. Selain itu, inventarisasi plasma nutfah menjadi langkah penting dalam menjaga keanekaragaman genetika tanaman kemenyan sebagai sumber daya masa depan.
Eksplorasi etnobotani juga membuka kembali pengetahuan tradisional masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Mulai dari teknik penyadapan hingga pemanfaatan kemenyan dalam ritual adat, setiap praktik menyimpan nilai filosofis yang memperkaya hubungan ilmu pengetahuan dengan budaya.
Ekspedisi ini bukan hanya tentang riset, tetapi juga tentang merajut kembali hubungan antara manusia, alam, dan tradisi. Di tengah tantangan modernisasi dan tekanan terhadap ekosistem hutan, kemenyan hadir sebagai simbol yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Riset, Resin, Ritual menegaskan bahwa pelestarian kemenyan bukan hanya tanggung jawab ilmuwan atau pemerintah, tetapi merupakan gerakan bersama untuk menjaga dan mengembangkan warisan peradaban Sumatra secara berkelanjutan.