TSTH2 menginisiasi revitalisasi lahan melalui penerapan sistem agroforestry, sebuah pendekatan ilmiah yang menggabungkan tanaman hutan dengan pertanian dalam satu sistem produksi. Sistem ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk memulihkan fungsi ekologis lahan secara berkelanjutan.
Program ini dilaksanakan bersama petani lokal sebagai mitra utama, dengan beberapa komoditas, seperti kopi, jeruk, tomat, kol, dan cabai dalam pola tanam multi-strata. Kombinasi ini memungkinkan pemanfaatan ruang tumbuh yang optimal. Tanaman tahunan berperan sebagai peneduh dan penyangga ekosistem, sementara tanaman hortikultura memberikan hasil yang lebih cepat sebagai sumber pendapatan harian.
Salah satu aspek penting dari pendekatan ini adalah upaya pemulihan kualitas tanah, khususnya pada lahan eks-eucalyptus yang umumnya mengalami penurunan kandungan unsur hara dan struktur tanah yang kurang optimal. Melalui diversifikasi tanaman dan sistem pengelolaan ramah lingkungan, sistem agroforestri mampu meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki siklus hara, serta meningkatkan kapasitas tanah dalam menyimpan air.
Dari sisi ekosistem, agroforestri dapat berkontribusi pada peningkatan keanekaragaman hayati, stabilisasi mikroklimat, serta pengurangan risiko erosi dan degradasi lahan. Interaksi antar tanaman dan organisme tanah menciptakan ekosistem yang lebih tahan terhadap tekanan lingkungan, bahkan perubahan iklim.
Selain itu, dari sisi sosial-ekonomi, agroforestri dapat memberikan dampak yang signifikan bagi petani. Diversifikasi tanaman memungkinkan sumber pendapatan yang lebih beragam dan stabil dibandingkan sistem monokultur. Petani tidak tergantung pada satu jenis tanaman saja, tetapi masih memiliki beberapa komoditas dengan siklus panen yang berbeda, sehingga risiko ekonomi dapat diminimalisir.